Jangan Mendoktrin Anak Mengejar Ranking

jangan-doktrin-anak

Di beberapa wilayah di Indonesia, baru saja melewati prosesi penerimaan Laporan Hasil Belajar anak-anak kita selama satu semester ini. Sedangkan di beberapa wilayah lain, termasuk Bali, hal tersebut akan dilaksanakan pada akhir minggu ini. Prosesi penerimaan Laporan Hasil Belajar, merupakan penanda berakhirnya kegiatan selama satu tahun pelajaran. Fenomena di lapangan dalam setiap akhir semester, biasanya adalah ramainya media sosial dengan postingan raport anak-anak kita oleh para orang tuanya. Selain itu juga, di sekolah sebagian siswa meminta wali kelas menerbitkan hasil perangkingan dengan alasan diminta oleh orang tuanya. Hal ini sah-sah saja, tidak ada yang salah memang, tapi sudahkah kita sebagai orang tua memahami dan menyadari proses perangkingan anak sudah tidak diberlakukan lagi di kurikulum pendidikan yang diikuti anak-anak kita? Ya, jangankan di Kurikulum 2013, dari Kurikulum 2006 pun proses perangkingan sudah mulai ditiadakan. Dari raport Kurikulum 2006 yang masih di tulis tangan hingga sekarang di Kurikulum 2013 yang menggunakan raport cetak berbasis aplikasi E-Raport tidak ada kolom rangking yang disediakan. Jadi kenapa kita sebagai orang tua terus menuntut anak memiliki rangking? Semisal jika anak kita tidak mendapat rangking, apakah berarti anak tersebut bodoh?

Ada dua kubu yang memiliki pemahaman berbeda terhadap sistem pemberian ranking di tingkat sekolah. Yang pro menyatakan dengan pemberian ranking akan memberikan dorongan kepada anak untuk belajar lebih giat, sedangkan yang kontra berpandangan akan ada siswa yang merasa tidak dihargai usahanya selama proses belajar, karena yang terlihat hanya yang mendapat ranking. Dua kubu ini memiliki sudut pandang yang sama benarnya. Nah sekarang kita lihat esensi dari peniadaan rangking di kurikulum yang diberlakukan di Indonesia, yang sejatinya berdasarkan kepada alasan apakah kita akan membiasakan anak kita untuk berkompetisi atau berkolaborasi? Usia sekolah adalah usia dimana anak-anak harusnya lebih banyak belajar bekerjasama yang positif, bekerjasama dalam suatu tim, dan bekerjasama membangun tim. Siswa belajar untuk berkolaborasi, beradaptasi, bernegosiasi, belajar mengemukakan pendapat, belajar menghargai orang lain, belajar untuk saling menghormati, dan tentunya lebih banyak berkesempatan untuk bersosialisasi dan memiliki banyak teman.

Anak seharusnya tidak perlu dituntut untuk berkompetisi dengan temannya sedari dini. Anak yang tumbuh dan berkembang di masa sekolahnya melalui fase kolaborasi, pada masa dewasanya akan memiliki mental “apa yang bisa saya bantu?”. Ini poin pentingnya. Bukan hanya apa yang mereka dapatkan pada masa sekarang, tetapi apa yang bisa mereka gunakan di masa mendatang. Saat mereka memasuki dunia kerja, mereka akan mampu bekerjasama, saling mendukung, saling menghormati untuk memajukan tempat kerjanya sehingga mereka akan memiliki kesejahteraan yang sama. Sedangkan anak yang terlalu dituntut untuk berkompetisi jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter, agama, dan penataan emosi yang mumpuni, tidak jarang akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang suka bekerjasama, karena menganggap temannya adalah kompetitornya yang harus dikalahkan. Proses kompetisi bisa menjadi ajang menghalalkan segala cara hanya untuk menunjukkan hasil akhir yang terbaik dengan mengabaikan proses pencapainnya. Praktek-praktek kecurangan demi hasil terbaik tidak bisa dipungkiri masih marak terjadi di dunia pendidikan kita. Hal itu dilakukan hanya demi memenangkan suatu kompetisi semu.

Reduksi pemahaman dari kompetisi menjadi kolaborasi dalam proses dan tujuan pendidikan anak-anak kita harus benar-benar kita pahami sebagai orang tua. Agar tidak selalu menuntut anak secara berlebihan dan malah mengabaikan kenyamanan dan kebahagiaan anak dalam menjalani masa sekolahnya. Perlu kita pahami bersama bahwa pendidikan adalah suatu proses. Jadi saat melihat apakah anak kita berhasil dalam pendidikannya, maka fokuslah pada prosesnya, bukan hanya melihat hasil akhirnya saja. Saat anak tidak mendapat rangking, bukan berarti dia anak yang bodoh, tapi lihatlah apakah anak kita mengalami peningkatan hasil belajar? Jika ya, maka sejatinya kita harus mengapresiasi anak kita bahwa dia sudah berhasil mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik yang ditunjukkan oleh peningkatan hasil belajar tersebut. Jadi bandingkan prestasi anak kita dengan prestasi dirinya sebelumnya, bukan dengan prestasi anak lainnya, apalagi melakukan perbandingan secara terbuka. Jikalaupun anak kita tidak mengalami peningkatan hasil belajar, janganlah serta merta salahkan anak, karena kemajuan proses belajar seorang anak tidak hanya bersumber dari diri diri anak, tapi juga bersumber dari lingkungan sekitar anak termasuk kita orang tuanya. Lebih efektif melakukan diskusi dengan anak apa yang akan dilakukan bersama antara orang tua dan anak untuk meningkatkan hasil belajar anak semester selanjutnya.

Jadi, sebagai orang tua memang sebaiknya kita jangan mendoktrin anak dengan menuntut rangking. Karena kurikulum yang diberlakukan untuk anak kita pun meniadakan sistem rangking dengan tujuan agar sekolah tidak hanya menjadi ajang kompetisi yang mengarah ke individualisme. Negara kita saat ini membutuhkan generasi penerus yang mampu berkerja sama, berempati tinggi, jujur, bertanggung jawab yang memiliki tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga secara spiritual dan emosional, bukannya generasi penerus yang saling jegal, saling menjatuhkan, dan berkompetisi dengan menunjukkan kejelekan kompetitornya demi terlihat paling baik.  Tugas kita sebagai orang tua adalah menemani anak agar nyaman di masa sekolahnya hingga mampu mengajegakan karakter-karakter positif tersebut hingga anak dewasa kelak. Dan terakhir, jangan lupa apresiasi sekecil apapun usaha yang telah mereka lakukan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.