Saya dan Disleksia

Disleksia, menurut wikipedia adalah sejenis gangguan dalam belajar. Lebih banyak terlihat pada anak usia 7 – 8 tahun. Dan lebih sering ditandai dengan kesulitan dalam membaca, walaupun kesulitan dalam membaca tidak sepenuhnya karena disleksia.

Saya disleksia. Yah walaupun saya tidak melakukan pemeriksaan secara medis untuk benar-benar memastikannya. hehehe… Hanya bersumber pencocokan apa yang pernah dan masih saya alami serta literatur-literatur yang sempat saya baca.

Awalnya saya ragu bahwa saya disleksia, karena saya rasanya tidak kesulitan dalam membaca saat kecil. Tapi dari sumber yang saya baca, disleksia tidak hanya berkaitan dengan gangguan belajar membaca, tetapi juga menulis, berbahasa, dan matematika serta tidak jarang dalam hal seni. Ada hal-hal remeh (bagi orang) tapi sangat sulit saya lakukan dulu (bahkan hingga sekarang).

Saat kanak-kanak, saya benar-benar tidak bisa membaca jam. Saya tidak bisa membedakan mana yang merupakan pukul 5 lewat 15 dengan pukul 5 kurang 15. Saya tidak tahu mana bagaimana membaca jarum jam yang di dinding. Jika ingin tahu jam berapa, saya harus meminta orang tua saya untuk membacakannya. Berangsur-angsur hingga menjelang SMP akhirnya saya mulai bisa membaca jam. Lumayan lama ya, padahal udah dikenalin jam dr kelas 2 SD.

Saya sering menukar-nukar kata secara tak sengaja, terutama dua kata yang memiliki rima dan ritme sama serta berurutan. Misalkan maksud saya “Baju Bau” tapi yang saya ucapkan malah “Bau Baju”. Dan ini berlangsung hingga sekarang, mungkin orang-orang tidak tahu karena biasanya setelah dua kali saya ucapkan, saya akan sadar dan segera saya perbaiki.

Dalam berbahasa verbal, saya kesulitan terutama dalam menelpon atau menerima telpon. Entah kenapa saya tidak terlalu nyaman dalam menelpon atau menerima telpon. Tapi dalam bentuk teks, chat, sms, atau bahasa tulis lainnya saya biasa saja. Saya tidak terlalu suka berbicara diluar bidang yang saya kuasai (matematika SMA), padahal sebagai seorang pendidik, kemampuan berkomunikasi dalam hal aspek mendidik dan konseling sangat diperlukan. Dan saat komunikasi verbal diluar matematika diperlukan, maka saya harus benar-benar berkonsentrasi, pembicaraan tidak mau mengalir begitu saja seperti yang saya lihat pada orang lain.

Dan yang paling parah adalah saya tidak bisa membedakan kiri atau kanan. Saat sudah berkonsentrasi sekeras apapun peluang saya menjawab salah pertanyaan kiri atau kanan akan jauh lebih besar daripada peluang saya menjawab salah soal matematika SMA. Suami guweh ampe pusying bu… hehehe… Dulu saya paling stress kalo sudah ketemu yang namanya latihan baris berbaris. Harus konsentrasi tingkat dewa setiap jadi siswa atau mahasiswa baru, kan musti ospek gitu, yang pasti akan ada hadap kanan, hadap kirinya.

Saya tidak mau menyebut disleksia itu sebagai penderitaan ataupun hambatan. Karena saya tidak pernah menderita atau dihambat oleh disleksia. Disleksia hanya gangguan kecil yang bisa diatasi dengan kekonsistenan, seperti masalah membaca jam saat saya masih kecil dulu. Ataupun jika tidak bisa hilang, berkompromilah dengan diri, dan terima situasi dengan happy, seperti saya dan kanan-kiri. Saya dan masalah kanan-kiri akan tetap bersama seumur hidup saya.

Dan sebagai orang tua sekarang, berhubung saya pernah mengalami dan bahkan masih berlanjut hingga sekarang, bisa saya katakan anak dengan disleksia bukanlah anak yang bodoh. Gangguan kecil yang mereka alami bisa hilang ataupun terkompromikan selama kita sebagai orang tua konsisten mendampingi anak-anak kita.

Anak dengan disleksia hanya kehilangan huruf dan angka (sebentar) bukan kehilangan masa depannya.

Beberapa tokoh dunia pada masa kecilnya juga adalah anak dengan disleksia :Β Albert Einstein, Walt Disney, Thomas Alva Edison, Pablo Picasso, Leonardo da Vinci, Hans Christian Anderson, Alexander Graham Bell, Whoopi Goldberg, Erin Brockovitch, General George Patton, Salma Hayek, Nelson Rockefeller, Jewel, Pablo Picasso, Keira Knightley, John Lennon, Thomas Jefferson, John F. Kennedy, George Washington, Mohammad Ali, Ordando Bloom, Tom Cruise, dan juga Jacky Chan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan