Kompetisi vs Kolaborasi, Alasan Peniadaan Rangking dalam Kurikulum Pendidikan Kita.

kompetisi

Rutinitas setiap akhir semester dalam dunia pendidikan kita adalah penerimaan Laporan Hasil Belajar atau istilah awamnya rapotan. Realita di lapangan yang terlihat adalah beberapa orang tua menampilkan ranking anaknya di raport di sosial media. Selain itu, sebagian siswa meminta wali kelas menerbitkan hasil perangkingan dengan alasan diminta oleh orang tuanya. Hal ini sah-sah saja, tapi sudahkah kita sebagai orang tua memahami dan menyadari proses perangkingan anak sudah tidak diberlakukan lagi di kurikulum pendidikan yang diikuti anak-anak kita? Ya, jangankan di Kurikulum 2013 (K13), dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan KTSP pun proses perangkingan sudah mulai ditiadakan. Dari raport KTSP yang masih di tulis tangan hingga sekarang di K13 yang menggunakan raport cetak berbasis aplikasi E-Raport tidak ada kolom rangking yang disediakan. Jadi kenapa kita sebagai orang tua terus menuntut anak memiliki rangking? Semisal dia tidak mendapat rangking, apakah berarti anak tersebut bodoh?

Sejatinya, peniadaan rangking di kurikulum yang diberlakukan di Indonesia, berdasarkan kepada alasan apakah kita akan membiasakan anak kita untuk berkompetisi atau berkolaborasi? Usia sekolah adalah masa dimana anak-anak harusnya lebih banyak diajak untuk berkolaborasi, bekerjasama dalam teamwork, beradaptasi, dan lebih banyak bersosialisasi untuk memiliki banyak teman. Anak tidak perlu dituntut untuk berkompetisi dengan temannya sedari dini. Anak yang tumbuh dan berkembang melalui fase kolaborasi akan memiliki mental “apa yang bisa saya bantu?” di masa dewasanya kelak. Saat mereka memasuki dunia kerja, mereka akan mampu bekerjasama, saling mendukung, saling menghormati untuk memajukan tempat kerjanya sehingga mereka akan memiliki kesejahteraan yang sama. Sedangkan anak yang terlalu dituntut untuk berkompetisi tidak jarang akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang suka bekerjasama, karena menganggap temannya adalah kompetitornya yang harus dikalahkan. Naasnya lagi jika tidak diikuti pendidikan karakter yang mumpuni, proses kompetisi bisa menjadi ajang menghalalkan segala cara hanya untuk menunjukkan hasil yang tebaik. Praktek-praktek kecurangan demi hasil terbaik tidak bisa dipungkiri sering terjadi di dunia pendidikan kita, demi memenangkan suatu kompetisi semu.

Selain itu, perlu kita pahami juga bahwa pendidikan adalah suatu proses. Jadi saat melihat apakah anak kita berhasil dalam pendidikannya, nilailah prosesnya, bukan hasil akhirnya saja. Saat anak tidak mendapat rangking, bukan berarti dia anak yang bodoh, tapi lihatlah apakah anak kita mengalami peningkatan hasil belajar? Jika ya, maka sejatinya kita harus mengapresiasi anak kita bahwa dia sudah berhasil mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik yang ditunjukkan oleh peningkatan hasil belajar tersebut. Jadi bandingkan prestasi anak kita dengan prestasi dirinya sebelumnya, bukan dengan prestasi anak lainnya. Jikalapun anak kita tidak mengalami peningkatan hasil belajar, janganlah serta merta salahkan anak, karena kemajuan proses belajar seorang anak tidak hanya bersumber dari diri diri anak, tapi juga bersumber dari lingkungan sekitar anak termasuk kita orang tuanya. Lebih efektif melakukan diskusi dengan anak apa yang akan dilakukan bersama antara orang tua dan anak untuk meningkatkan hasil belajar anak semester selanjutnya.

Jadi, sebagai orang tua memang sebaiknya kita jangan mendoktrin anak dengan menuntut rangking. Karena kurikulum yang diberlakukan untuk anak kita pun meniadakan sistem rangking dengan tujuan agar sekolah tidak hanya menjadi ajang kompetisi yang mengarah ke individualisme. Negara kita saat ini membutuhkan generasi penerus yang mampu berkerja sama, berempati tinggi, jujur, bertanggung jawab yang memiliki tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga secara spiritual dan emosional, bukannya generasi penerus yang saling jegal, saling menjatuhkan, dan berkompetisi dengan menunjukkan kejelekan kompetitornya demi terlihat paling baik.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan